Once upon a time, when the sky was covered with blue, when the sun was smiling too

Minggu, 19 September 2010

PUISI DI SURAT KABAR


tadi pagi waktu lagi bukabuka halaman koran,saya nemu puisi ini.. di kolom bawah bagian lembar budaya.. diantara banyak puisi yang dimuat, ga tau kenapa 2 puisi ini bikin saya jatuh hati..
puisi dengan judul pengantin menunggu hujan dan lagu nakal.


PENGANTIN MENUNGGU HUJAN


aku menunggu hujan. ia tak kunjung datang.
aku menengok kalender layu di dinding,
yang tanggalnya sudah kering dan berwarna kuning.
dengan hanya 6 hari,Senin,Selasa,Rabu,Kamis,Jumat,Minggu.

ya, loncat Minggu.

Sabtu raib.

tak puas berdiri di rumah, aku keluar.
menengok ke langit.
hey, aku melihatnya. aku melihat hujan nyumput di balik awan.
rambutnya tergerai panjang menusuk bulan.
bulan kesakitan. tapi tak mengeluh.

hujan, aku menunggumu.
bukankah kita akan menikah.
aku sudah beli gaun ungu.
aku sudah siapkan penghulu untuk ijab kabul kita.

Ya, dan ini bulan Juni. kau berjanji akan menikahiku di bulan Juni.
aku mengambil gaun ungu. memakainya persis di bawah awan hitam.
membawa buket bunga di tangan.
kemudian duduk di bangku taman yang renta.

siapa tahu hujan akan datang pikirku dalam hati.

aku masih disini, menunggu hujan.
jauh di atas sana. awan menangis, sampai make up nya luntur, berjalan bersama keranda.

hujan mati.
(2010)

(by THEORESIA RUMTHE, menulis puisi dan penyiar. puisinya dimuat dalam antologi "Rona Kata" (2010)



LAGU NAKAL

1
lelakiku
tataplah gadismu ini tanpa jeda
kecuplah gadismu ini tanpa hirup
tanpa ragu!

2
napas cakrawala
meminang malam
jemari langit
mainkan irama hatiku
rindu secawan anggur
yang disuling
dari urat lelakimu?

3
mari menyulam kelam
dengan syair syair semesta
meski zikir terhenti
diantara sudu sudut malam
dadaku kembang kempis
sudah untuk kau layari
(2009)

(oleh ANTEN KINANSIH(wahyuni rahmaningsih) lahir di Tasikmalaya, 16 november 1988, belajar di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya Jurusan PGSD S-1. menulis puisi dan aktif di komunitas Aksara UPI Tasikmalaya)


Koran Pikiran Rakyat, Minggu, 19 September 2010