hari ini, hati saya sedikit tidak stabil,terenyuh, seperti sangat kagum sekaligus miris.cerita hari ini, hasil akumulasi cerita hari hari ke belakang.
hari ini waktu saya banyak saya habiskan dengan seorang kerabat. kerabat yang jauh lebih berumur. saya sapa dia om. untuk sedikit klarifikasi om ini adalah guru saya,kami memang banyak berinteraksi akhir akhir ini, karena ikatan antara keperluan saya dan kewajiban mencari nafkahnya,akhirnya kami -saya, om dan teh ami- banyak berhubungan 1 minggu kebelakang ini. om ini adalah pria menjelang umur yang sangat matang dengan karakter kuat tapi pembawaanya santai. om ini pandai bergaul,metal,dan sedikit seperti reman pemikirannya, sangat pintar mengakrabkan diri dan sangat lucu, tak disangka dikalangan seumuranya dia begitu berjiwa muda, sangat mengerti jiwa jiwa saya dan teh ami yang sedang senang senangnya menikmati dunia masa muda. benar benar asik.
tiap hari kami berbincang, saya dan teh ami makin banyak mengenalnya. analisis mengenai hidupnya pun makin saya mengerti. gambaran tentang orang yang baru saya kenal ini sudah tersketsa jelas sekarang.
seperti yang saya ceritakan di atas. seperti begitulah ia. tapi tunggu, itu bukan pointnya. makin lama mengenalnya, saya makin kagum. om ini, pria dengan istri dan 2 orang anak,anak besar kelas 5 sd anak terkecilnya berumur 2setengah tahun. tidak berpekerjaan tetap. tapi kemauannya yang keras memaksa ia harus tetap bekerja, apapun ia lakukan. tidak malu jika harus jadi supir jadi ini jadi itu. apapun. ia bilang ia harus menafkahi rumah tangganya. ia juga bercerita tentang kematian ayahnya baru baru ini. akhir tahun kemarin. ia bercerita detail tentang hari itu. tapi saat itu bukan itu yang saya tangkap. saya melihat bagaimana keluarganya, saya mendengarkan ceritanya tapi saya menebali kalimatnya yang lain. ibu dan ayahnya membuka warung kecil kecilan. ia bilang ayahnya ingin sebuah rumah. rumah sendiri. katanya,kata ayahnya, ayahnya itu ingin punya rumah sendiri, biarlah kecil, biarlah dipinggir komplek,biarlah hanya perumahan pjka,tapi mimpinya ingin punya rumah sendiri. (saya melihat mimik wajahnya yang serius saat bercerita bagian ini). lalu ia melanjutkan, akhirnya ia dan adik adiknya bersama sama mewujudkannya. tapi ada satu hal, dia bilang di kalimat berikutnya,
"adik adik semua sumbang uang, yaa aku blum bisa sumbang uang,aku sumbang tenaga sebisaku"
ia memang menyebut dirinya sebagai aku.
lalu aku terheran "om yang bangunnya maksudnya"
ia tersenyum "yaaa dicicil lah, alhamdulilah aku kerjain sendiri semuanya, mulai ngaduk,ngaci,nempel tembok,masang bata, kadang bapa juga bantu 'ayo pak kita ngaduk'." ia tekankan lagi "ya aku baru cuma bisa nyumbang tenaga" katanya senyum.
aku makin memperhatikan mimik wajahnya. serius. tidak berusaha meng-image kan dirinya untuk dikasihani.ia bangga. ya, memang itu sangat membanggakan.
lalu ia buka lagi kalimatnya, "sampai sekarang juga belum jadi semuanya. sedikit sedikit aja sambil jalan, ada uang lebih sedikit aku beli semen, nambah nambahin. kan uang nya sudah habis. biar sedikit tapi terus aku usahain untuk nambah nambah, biar rumah ibu cepat jadi". ia bilang sekarang rumah ibu. mungkin karena bapaknya telah punya rumah sendiri disana, simpulan pikiranku sendiri
lalu kembali ke hari ini. hari ini, saya dan om menjemput teh ami di rumahnya, seperti biasa kami pergi bertiga. ada hal menarik, yang membuat saya makin merasa mendapat gambaran jelas tentang sosok pria-om yang satu ini. dari rumah teh ami saya membawa satu apel. lalu teh ami kembali masuk, teh ami membawa 1 lagi apel. pasti untuk om itu saya yakin. benar memang teh ami memberikan 1 apel merah lumayan besar itu pada om. om bilang "waaahh...buat aku nih.. makasih nih tehami"
setelah itu saya tidak begitu memperhatikan, saya sibuk memakan apel saya sendiri, sampai om saja berkomentar "waduh itu yang dibelakang makan nya sampe krauk krauk." saya tertawa kecil.malu.
lalu, saya lihat ke dashbord. apel tadi,om letakkan disana. saya lalu melirik om, "oh sedang ngeroko" pikir saya mencoba mencari penyebab kenapa apelnya belum dimakan. lama kelamaan saya perhatikan, setelah rokonya habis terisap, apel itu pun tetap pada posisinya. penasaran, saya buka suara "itu om apelnya" mungkin dia tersadar, "oh kalian ga tau ya kenapa apel ini ga aku makan. mau aku bawa pulang aja ini" saya menarik nafas, ia melanjutkan "kasian, buat anakku aja nanti"
dia meneruskan lagi "ntar juga kalian kalo udah punya anak ngerasain."
ya. kejadian ini.ini yang ingin saya ceritakan. saat mendengarnya saya merasa apa ya..saya tidak tahu kata untuk mendefinisikaanyya. cuma 1 apel. hanya 1 apel saja. kenapa ia begitu ingin memberikan itu pada anaknya. padahal bisa ia makan sendiri saat itu. entah kenapa saya langsung merasa haru. padahal om berbicara biasa saja, tidak menya menye. sungguh benar pemikiran saya belakangan ini tentang om. om,tidak semua orang seperti om. "nanti juga kalian ngerasain sendiri" yang om bilang itu, tidak semua orang berpikir itu. bahkan saya pun tidak berpikir jauh kesana. saya dapat ya saya makan. saya tidak berpikir ini untuk adik ku ibuku atau orang rumah. tentu saja, buat apa, di rumah pun ada apel. kenapa harus pusing.
yaa, itu. di rumah om tidak ada apel. dan saat apel ini ada, om langsung ingin membawanya pulang untuk anaknya di rumah. tidak ia makan. hanya ia taruh di dashbord mobil. padahal itu hanya 1 apel merah yang tidak terlalu besar.
pria yang baik.
lalu begitu urusan kita selesai. om mengantar ke rumah dan mengembalikan mobil, dan sedikit laporan harian pada ayah dan ibuku. ia terburu buru saat tadi pulang. katanya ada tahlilan. padahal hari itu dari cerita cerita kecil kita, saya tau dia baru tidur 1 jam saja.
lalu ia pamit pulang. biasa, jalan kaki dan angkot, setelah mobil dikembalikan pada ayah. saat itu, saya ambil 1 apel.pikirku kasihan sekali jika ia pulang hanya bawa 1 saja.
benar saja dugaan saya. saat saya beri, tidak terang terangan,saya takut ia malu,ia tersenyum. lagi lagi kalimatnya sangat membuatku kagum padanya. ia bilang
"alhamdulilah dapet lagi (tertawa kecil diakhiri senyum) yang ini buat kakanya"
melihat ke arah saya. ia tersenyum.
saya tersenyum. mungkin om tidak tau apa yang saya pikirkan.
om benar benar hebat. hmmmmm.... hari ini saya begitu merasa tau bagaimana guru saya yang satu ini sebenarnya.
regards,
fika :)